Inspiratif! Mahasiswa Terangi Dusun Terisolir Dengan Panel Surya

  • Bagikan

Universitas Pertamina, 15 Maret – Disebutkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030, ditargetkan porsi pembangkit Energi Baru dan Terbarukan (EBT) meningkat menjadi 51,6 persen dari RUPTL 2019-2028 yang masih berada di kisaran 30 persen. Adapun, total target penambahan pembangkit adalah sebesar 40,6 GW, dengan porsi EBT mencapai 20,9 GW.

Sementara itu, untuk meningkatkan bauran EBT dan penyaluran listrik bagi masyarakat di pedesaan, menurut Kementerian ESDM, pemerintah juga terus mendorong pelaksanaan program dedieselisasi melalui penggantian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke pembangkit EBT sesuai dengan potensi energi terbarukan di daerah setempat.

Ikut ambil peran dalam mencapai target bauran energi nasional sekaligus berkontribusi dalam pembangunan EBT di daerah asalnya, enam Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Pertamina asal Provinsi Sulawesi Selatan melakukan pemasangan panel surya di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu. Mereka adalah: Muh Nurcholis Ma’arif Dahlan, Nur Alya Taswir, Axel Jevon Trisaktomo, Rigel Iswanto, M. Ryan Tri Hardyawan, dan Siti Aulia Ramadhani.

Ide awal pemasangan panel surya ini, dikatakan Nurcholis, muncul saat ia dan tim berkunjung ke daerah tersebut. “Dalam perjalanan pulang yang sudah memasuki waktu petang, kami sangat terkejut karena tidak ada satupun lampu jalan atau penerang di sana. Ditambah lagi, kondisi jalan yang kurang baik membuat kami harus ekstra hati-hati. Dari sinilah kami mengerti, mengapa Dusun Kuri Caddi sering disebut sebagai daerah terisolir,” ujar Nurcholis dalam wawancara daring, Selasa (15/03).

Nurcholis dan tim datang kembali ke Dusun Kuri Caddi esok harinya untuk menemui Kepala Dusun. “Dalam pertemuan inilah, akhirnya kami mengetahui bahwa masyarakat tidak memiliki biaya untuk memasang dan melakukan iuran rutin pembayaran lampu penerangan jalan. Kami lalu menawarkan solusi pemasangan lampu jalan bertenaga surya yang langsung disambut positif oleh Kepala Dusun dan masyarakat,” pungkas Nurcholis.

Nurcholis dan tim kemudian mengajukan proposal pendanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat kepada Universitas Pertamina, yaitu melalui program LIGHT UP. Melalui program tersebut, pada Tahun Akademik 2021/2022 Universitas Pertamina menggelontorkan dana senilai lebih dari 50 juta rupiah. Tak kurang dari 10 proyek mahasiswa di 10 lokasi berbeda direalisasikan tahun ini setelah melalui serangkaian proses seleksi ketat.

Berbekal hasil survey kepada masyarakat, Nurcholis dan tim dengan pendampingan dari perangkat dusun, akhirnya menentukan lima titik pemasangan lampu jalan bertenaga surya. Kelima titik ini merupakan titik krusial bagi akses dari dan ke Dusun Kuri Caddi. Nurcholis dan tim selanjutnya melakukan instalasi dan pemasangan lampu jalan bertenaga surya tersebut pada 18 Desember 2021.

“Dalam proses instalasi lampu jalan bertenaga surya tersebut, kami dapat secara langsung mempraktikkan ilmu yang sudah kami pelajari di kelas. Misalnya dengan basic knowledge di Mata Kuliah Rekayasa Bahan, kami memperhitungkan dengan cermat bahan campuran yang digunakan untuk membuat pondasi beton tiang lampunya agar dapat berdiri dengan kokoh dan aman. Kami juga menjadikan Mata Kuliah Manajemen Konstruksi sebagai panduan dalam melakukan tahapan proyek konstruksi. Misalnya, bagaimana cara-cara pengelasan besi yang baik, pemasangannya dari satu komponen ke komponen lain, dan seterusnya,” tutur Nurcholis.

Kepala Dusun Kuri Caddi, Sapri, S.Pd.I, mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi kepada Nurcholis dan tim. “Tidak hanya mempermudah akses jalan, adik-adik mahasiswa juga telah memberikan edukasi tentang apa itu EBT dan bagaimana memanfaatkannya kepada warga Dusun Kuri Caddi. Ke depan, kami berharap kerja sama ini dapat terus terjalin dan semakin luas cakupannya. Misalnya, membantu para nelayan di Dusun Kuri Caddi memanfaatkan sumber penerangan dengan panel surya tersebut untuk menghemat biaya aki atau genset,” ungkap Sapri.

Bagi siswa/siswi yang tertarik dengan isu pembangunan infrastruktur energi, dapat memilih Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina. Kampus swasta unggulan besutan PT Pertamina (Persero) tersebut, mengajak putra/putri terbaik dari seluruh penjuru negeri untuk mendaftar di Seleksi Nilai Rapor (Non-tes) dan Ujian Masuk Online, untuk Tahun Akademik 2022/2023. Universitas Pertamina juga menyediakan berbagai beasiswa untuk membantu para siswa/siswi. Informasi lengkap dapat diakses di laman https://universitaspertamina.ac.id/pendaftaran

Tentang Universitas Pertamina

Universitas Pertamina merupakan Perguruan Tinggi Swasta yang didirikan pada tanggal 1 Februari 2016 sebagai bentuk tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) di bidang pendidikan. Universitas Pertamina diresmikan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) pada tanggal 11 Februari 2016. Universitas Pertamina memiliki 6 Fakultas dan 15 Program Studi yang kurikulumnya dibuat berbasis kebutuhan industri energi. Universitas Pertamina didirikan dengan harapan menjadi universitas berkelas dunia yang bergerak di bidang bisnis dan teknologi energi. Saat ini, pengelolaan Universitas Pertamina berada di bawah naungan Pertamina Foundation.

Untuk informasi lebih lanjut:

Alamat : Jalan Teuku Nyak Arief, Simprug, Kel. Grogol Selatan, Kec. Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12220

Telepon : (021) 29044308

Website : www.universitaspertamina.ac.id 

Email : [email protected]

Media Sosial : 1. Instagram : universitaspertamina

2. Twitter : @UnivPertamina

3. [email protected] : @UnivPertamina

4. Facebook : Universitas Pertamina

Narahubung:

Nama : Pristia T.A. – Tim Humas Universitas Pertamina

Telepon : 08999560084

Email : [email protected] 

Akibatnya, Indonesia sempat mengalami kelangkaan penyanitasi tangan karena keterbatasan bahan baku. Selain dari kelangkaan yang terjadi, Meski dianggap sangat efektif dalam membunuh kuman dan bakteri, faktanya penggunaan penyanitasi tangan berbahan alkohol dalam jangka panjang tidak baik untuk kulit.

World Health Organization (WHO) menyebutkan, penyanitasi tangan yang efektif harus memiliki kandungan alkohol sedikitnya 60 persen. Namun, jika dipakai secara terus menerus, alkohol yang terkandung dalam penyanitasi tangan dapat mengurangi protein dan lipid pada lapisan kulit yang berpotensi mengurangi kelembaban kulit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Dermatology Association (AADA), selain rasa tidak nyaman, kulit kering justru dapat meningkatkan peluang masuknya kuman ke dalam tubuh.

masyarakat terkena panic buying dengan memborong stok masker dan hand sanitizer. Hal tersebut yang akhirnya mengakibatkan kelangkaan stok dan melonjaknya harga yang berada di atas batas normal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.